Rabu, 02 Agustus 2017

MENGEMBALIKAN TRADISI WEDA YANG MENYIMPANG

.
OM SWASTYASTU, Om Avighnam Astu Namo Sidham, Om anobadrah kratavo yantu visvatah, (Ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala arah) Pendengar Sedharma yang berbahagia, selamat pagi dan selamat berjumpa dalam acara Santapan Rohani Agama Hindu. Puja dan puji syukur patut kita haturkan kehadapan Ida Sang Hyang  Widhi Wasa (Tuhan yang Maha Esa), karena atas segala Asung Kerta Wara Nugraha-Nya kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk Berbagi ajaran Beliau, adapun topik kita pagi ini yaitu tentang “MENGEMBALIKAN TRADISI WEDA YANG MENYIMPANG”.

Pendengar Sedharma yang saya banggakan,
Tradis dalam Hindu yang disebut Acara itu sebagai empiris dari esensi Weda. Weda itu adalah supra empiris, karena Weda itu adalah sabda Tuhan. Manusia yang penuh dengan keterbatasan tentunya tidak mungkin mewujudkan nilai-nilai Weda dengan tepat seperti apa yang disabdakan oleh Tuhan itu. Karena keterbatasan itulah Weda diterapkan dalam tradisi beragama Hindu dengan berbagai kelebihan dan kekuranganya.

Pendengar Sedharma,
Berbagai kekurangan itu bukanlah berasal dari Weda, tetapi karena kekuarangan manusianya yang mengamalkan Weda itu sendiri. Karena itu Weda dalam wujudnya sebagai Agama Hindu harus selalu ditampilkan muda dan segar. Idial Weda harus selalu tampil aktual dan kontektual dengan kebutuhan jaman. Tradisi Weda yang sudah bergeser dan menyimpang harus dikembalikan pada relnya. Mengembalikan tradisi beragama Hindu yang sudah berjalan kepada  konsepnya yang benar sesuai dengan kitab sucinya. Itulahlah hakekat mengembalikan tradisi yang menyimpang.

Pendengar Sedharma dimanapun berada,
Menurut Manwa Dharmasastra II.6 Weda turun dari Sruti ke Smrti, terus ke Sila, Acara dan Atmanastusti. Karena itu membenahi  tradisi Weda yang sudah menyimpang harus diawali dari bawah terus dicarikan dasar hukumnya kesumber yang lebih tinggi. Ini artinya membenahi tradisi Weda itu tidak berarti mengabaikan tradisi Agama Hindu yang sudah  memasyarakat. Justru sebaliknya tradisi yang sudah memasyarakat itulah kita kaji kembali untuk dikembalikan pada sumbernya.

Pendengar sedharma,
Misalnya tradisi Hindu di Indonesia (Bali) lebih menonjolkan Upacara Yadnya. Apakah Upacara Yadnya yang dilakukan dewasa ini sudah sesuai dengan hahekat beryadnya yang idial sesuai dengan petunjuk kitab suci?. Dalam kitab Bhagawad Gita disebutkan, adanya tiga kualitas beryadnya. Ada yang tergolong Satvika Yadnya, Rajasika Yadnya dan ada yang tergolong Thamasika yadnya. Dengan ajaran Bhagawad Gita tersebut kita lihat kembali tradisi beryadnya yang kita lakukan. Adakah tradisi beryadnya itu sudah bergeser kearah yang semakin Rajasik atau Thamasik. Kalau ada gejala seperti itu, marilah kita benahi agar tradisi beryadnya itu kembali semakin Satvika. Ini artinya menegakan kembali pada tradisi beryadnya yang benar menurut kitab sucinya. Karena berbagai pembinaan kehidupan beragama Hindu khususnya di Bali mulai adanya gejala-gejala  perbaikan. Ada umat yang akan melangsungkan Upacara Yadnya dengan melakukan Dharma Tula atau semacam Seminar tentang Upacara yang akan dilangsungkan.

Pendengar Umat Sedharma yang saya cintai,
Dengan Dharma Tula itu, kualitas pemahaman umat akan Upacara Yadnya yang akan dilansungkan itu semakin meningkat. Saat Upacara yadnya diilangsungkan umat telah memiliki pengertian dan pemahaman yang lebih baik tentang Upacara yang dilangsungkan. Didalam kitab Bhagawad Gita disebutkan adanya tujuh syarat suatu Yadnya yang disebut Satvika Yadnya. atau yadnya yang bermutu tinggi. Satu persatu dari tujuh syarat berydanya itu dijadikan dasar untuk melihat kembali tradisi melangsungkan Upacara Yadnya tersebut.

Pendengar Umat sedharma di manpun anda berada,
Oleh karena itu, Dharma Tula sebaiknya dilangsungkan jauh sebelum Upacara Yadnya itu dilansungkan. Sedangkan Dharma Wacanaya dapat dilakukan saat upacara dilangsungkan. Namun hendaknya ditata agar Upacara Yadnya dan Dharma Wacana itu saling memperkuat. Pendengar Umat Sedharma yang saya banggakan,
Demikian juga menjelang hari Raya Agama Hindu. Jauh sebelum hari Raya, hendaknya dilangsungkan Dharma Tula tentang berbagai aspek yang menyangkut Hari Raya Agama tersebut. Kalau ada umat yang ingin memperkaya khasanah beragama berdasarkan Weda, hedaknya di Dharma Tulankan juga terlebih dahulu. Lembaga umat sepeti PHDI dan juga pemerintah, seperti pejabat Departemen Agama harus menjadi fasilitator dan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya pada umat untuk meningkatkan upayanya beragama.

Pendengar umat Sedharma yang berbahagia,
Dengan demikian nilai-nilai yang belum diaplikasikan akan dimunculkan sesuai dengan kebutuhan  jaman. Tradisi beragama Hindu itu harus terus diperkaya sepanjang sumbernya mengacu pada kitab suci Weda dan kita Sastranya. Seperti berjapa, Meditasi. melakukan Sevanam atau  pelayanan dan lain sebagainya.

Pendengar sedharma yang saya cintai,
   Pen Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga ini semua dapat membuka pikiran kita semua untuk menatap dan menyelami kehidupan ini yang sesuai dengan etika ajaran agama dan terutama itu semua berdasarkan dharma. Dan Akhir kata,,,,,,,,
Om Loka Samasta Sukhino Bhawantu”
“Ya Tuhan Semoga seluruh isi alam berbahagia”
OM SANTIH SANTIH  SANTIH  OM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TINDAKAN SEDERHANA PENUH MAKNA

  TINDAKAN SEDERHANA PENUH MAKNA Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namosidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran ya...