Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namasidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala arah), Pendengar sedharma yang berbahagia, puja dan puji syukur patut kita haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (TYME), karena kita dapat berjumpa lagi dalam acara Santapan Rohani Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI Nabire. Adapun Tema kita pagi ini adalah tentang “KEDAMAIAN BERBICARA”
Pendengar Sedharma di manapun anda berada,
Dalam jangka waktu yang amat lama, wacana publik kita, ditandai oleh kekerasan yang memperkuda kedamaian. Tidak hanya setelah republik ini merdeka, jauh sebelumnyapun sejarah kita, sudah ditandai oleh wajah - wajah kekerasan di sana-sini. Di Jawa Barat sana, banyak orang yang tingkat penghormatannya lebih rendah di bandingkan daerah Jawa lainnya terhadap nama Gajah Mada. Apa lagi yang ada di balik ini semua, kalau bukan sejarah kekerasan. Sejarah masa penjajahan apa lagi. Bercak dan aliran darah ada di mana-mana.
Pendengar Umat Sedharma yang Saya Cintai,
Dulunya, setelah kemerdekaan direbut dan pembangunan dijalankan, diharapkan bercak dan aliran darah bisa dihilangkan. Nyatanya, baik di masa orde lama, orde baru, bahkan sampai sekarangpun ia masih menjadi berita di hampir setiap media. Poso, Aceh, Irian Jaya, Jakarta hanyalah sebagian saja dari sekian banyak kekerasan mengerikan, tapi menjadi santapan wacana yang digemari. Belum lagi ditambah dengan kekerasan-kekerasan tersembunyi lainnya. Industri keuangan dan perbankan yang dirampok orang di sana-sini. Uang negara yang dijarah dari dulu hingga sekarang. Hubungan industrial yang ditandai banyak demonstrasi, pemogokan, pembakaran dan sejenisnya. Dan deretan panjang kekerasan lainnya.
Pendengar Sedharma,
Entah mana yang lebih mewakili. Sejarah manusia yang memang membawa kekerasan ke mana-mana, atau karena publik lebih tertarik dengan topik-topik kekerasan. Yang jelas, sulit diingkari kenyataan, semakin banyak berita kekerasan muncul dalam wacana publik, semakin laris medianya, serta semakin banyak orang mau membaca dan terlibat wacana. Pendengar Umat Sedharma yang Berbahagia,
Kita semua mungkin sudah hafal, beberapa tokoh publik dan organisasi masyarakat "kalau tidak mau dikatakan kebanyakan" malah "mendulang" hasil dari kekerasan. Buktinya, setelah kekerasan muncul, mereka muncul sebagai pahlawan, penyelamat, bahkan ada yang menjadi penguasa baru. Kadang saya malah bertanya penuh keraguan, tidakkah rezim yang sedang berkuasa ini adalah output dari mesin raksasa yang bernama kekerasan? Kalau mesinnya mesin kekerasan, adilkah kalau kita mengharapkan output kedamaian dari sana? kita jawab sendirilah pertanyaan-pertanyaan penuh keraguan tadi. Yang jelas, dengan resiko ditertawakan orang, ada tidak sedikit orang yang berharap agar kedamaian diberi kesempatan untuk berbicara. Boleh saja dia tidak menarik selera wacana banyak orang. Tidak membuat media menjadi laris manis. Tidak juga menghasilkan pahlawan dan penyelamat.
Pendengar Umat Sedharma dimanapun berada,
Akan tetapi, bukankah menjadi hak azasi setiap orang untuk hidup damai? Dibandingkan terlalu banyak bertanya, mari kita sama-sama ulas persoalan dianaktirikannya kedamaian oleh kekerasan. Mereka yang diteropong oleh Naisbitt masuk ke dalam kotak spirituality yes, formal religion no, mungkin menyebut agama telah gagal. Mereka yang anti kekuasaan akan menunjuk hidung kekuasaan sebagai biang keladi.
Pendengar Sedharma,
Pemerhati pendidikan lain lagi, mereka menuduh lembaga terakhir sudah tidak berfungsi lagi sebagai pembawa misi perdamaian. Mari kita meneropong bersama persoalan ini di tingkat individu. Ada sebuah kualitas pribadi yang berperan besar dalam memproduksi kekerasan. Dia bernama Aku. Dalam keakuan, banyak sekali hal yang sebenarnya berasal dari kedamaian sekalipun, bisa berubah menjadi kekerasan. Bibit-bibit keakuan terakhir bisa bersumber dari keyakinan dan perasaan benar, harga diri yang tinggi, keserakahan akan harta dan tahta, dll.
Pendengar Umat Sedharma yang saya cintai,
Coba bayangkan sepasang suami isteri yang sudah sejak lama hidup damai di hutan tanpa gangguan berarti. Suatu hari, ada kebutuhan untuk sekali-sekali bertengkar satu sama lain. Dan sepakatlah mereka untuk memulai pertengkaran. Sang isteri berkata dengan nada membentak: "ini ketela kesukaanku!". Dan suaminya berfikir sejenak, kemudian menjawab dengan penuh kesabaran: "ya itu memang kesukaanmu, dan marilah kita makan sama-sama seperti biasa". Maka, batallah pertengkaran yang sudah direncanakan terlebih dahulu ini.
Pendengan umat sedharma dimanapun anda berada,
Cerita ilustratif ini menunjukkan, keakuan memang sudah menjadi sumber pertengkaran di mana-mana. Namun, kesediaan dan kesabaran untuk senantiasa awas dengan keakuan tadi, sudah dan akan terus membantu proses menuju kedamaian. Bedanya dengan kekerasan yang datang tanpa diundang, sedangkan kedamaian memerlukan "undangan" khusus agar dia datang.
Pendengar umat sedharma yang berbahagia,
Demikian khususnya, sehingga memerlukan biaya yang amat besar. Salah satu artikel pernah tertuliskan sebuah kecenderungan yang mereka sebut dengan the new corporate mystiques. Ternyata, apa yang mereka sebut dengan mistik-mistik baru dunia usaha adalah kecenderungan sejumlah raksasa usaha di sana, untuk mengundang sejumlah rahib Budha sebagai pelatih. Bukan untuk mengajak orang masuk agama Budha. Melainkan, mengajari ekskekutif hidup dalam kedamaian. Kedamaian (demikian mereka meyakini) adalah syarat utama dari produktivitas.
Pendengar sedharma yang saya banggakan,
Dalam kedamaian, kita bisa melakukan dan mencapai lebih banyak hal. Mirip dengan keluarga di rumah, apa yang bisa kita capai kalau setiap hari isinya hanya pertengkaran? Ada yang bertanya, bukankah kedamaian akan lebih terasa nikmatnya kalau kita pernah mengalami kerusuhan? Tentu saja. Sebab, kehidupan merupakan hasil dari dialektika. Dan dialektika terakhir, sulit diharapkan berhasil optimal kalau salah satunya jauh lebih dominan dibandingkan yang lain. Mirip dengan kehidupan kita sekarang-sekarang ini, terutama dengan hadirnya kekerasan di banyak pojokan ruang publik. Akankah kita biarkan kedamaian menjadi kuda bisu yang ditunggangi kekerasan?
Pendengar sedharma yang saya cintai,
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga Sang Hyang Widhi senantiasa melindungi dan menganugrahkan kesehatan bagi umatnya. Saya atas nama PHDI Kab. Nabire mengucapkan selamat hari raya Pagerwesi, semoga ilmu pengetahuan yang sudah kita terima dapat bermanfaat untuk kita semua. Akhir kata;
Om Lokasamasta sukhino bhawantu.
“Ya Tuhan Semoga seluruh isi alam berbahagia”
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM .
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar