Senin, 26 November 2018
Sabtu, 24 November 2018
TRADISI VEDA
Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namosidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (Ya Tuhan semoga segala kebajikan datang dari semua arah), Pendengar sedharma yang berbahagia, Puja dan Puji syukur patut kita haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (TYME) karena kita masih berkesempatan untuk berjumpa pada acara Renungan Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI Nabire. Adapun Tema kita malam ini adalah TRADISI WEDA”
Pendengar sedharma yang saya cintai,
Nilai-nilai suci Weda yang disebut Widhi itu maha sempurna. Sedangkan manusia yang mengamalkan nilai suci itu penuh dengan keterbatasan. Karena itu pengamalan ajaran suci Weda itu mengalami pasang surut. Pasang surut penerapan ajaran suci Weda itu perlu dikendalikan agar jangan sampai jauh dari intinya.
Pendengar sedharma,
Memang akan selalu terjadi perbedaan antara idialisme Weda dan aplikasinya dalam tradisi. Namun perbedaan itu janganlah terlalu jauh menyimpang dari intinya. Ibarat rapor seorang murid sangatlah sulit menemukan rapor murid dengan nilai sepuluh untuk semua pelajaran. Kalau dapat mencapai nilai tujuh rata-rata itu sudah cukup baik. Murid yang mendapat nilai rata-rata tujuh pasti memenuhi syarat untuk naik kelas. Tradisi Weda juga demikian. Janganlah sampai tradisi itu terlalu jauh dengan intinya. Kalau diumpamakan seperti rapor murid tadi janganlah sampai nilainya dibawah angka lima misalnya.
Pendengar sedharma dimanapun anda berada,
Disamping itu tradisi Weda juga harus selalu dihadirkan untuk menjawab tangtangan jaman yang terus berkembang dan berubah. Di dalam ajaran suci Weda sudah terdapat konsep-konsep yang kontektual dan aktual. Konsep yang kontektual dan aktual itu untuk mengatasi setiap perubahan jaman agar kembali pada kondisi jaman menurut idealnya.
Pendengar umat Sedharma,
Tanda-tanda setiap jaman sudah diperidiksi jauh sebelumnya oleh kitab suci Weda dan kitab-kitab Sastranya. Karena itu di dalam kitab Manawa Dharmasastra I.86. sudah ditentukan cara beragama yang paling idial dan tepat untuk setiap jaman. Misalnya pada jaman Kerta cara beragama yang paling tepat adalah dengan jalan ber "Tapa". Tentunya sangat berbeda dengan cara beragama jaman sekarang, yaitu jaman Kali misalnya. Jaman Kali yang paling dianggap bernilai oleh manusia adalah uang. Karena itu kitab Manawa Dharmasastra menetapkan cara beragama yang paling tepat adalah dengan cara ber "Dana Punia".
Pendengar sedharma yang berbahagia,
Untuk menumbuhkan niat ber "Dana Punia" pada jaman Kali ini sangat dianjurkan oleh Swami Satya Narayana untuk melakukan Pujanam dan Sevanam. Pujaman artinya meningkatkan dan menajamkan kembali kegiatan bhakti pada Tuhan. Sevanam artinya berbhakti pada Tuhan, itu juga diwujudkan dengan melakukan pengabdian pada sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan. Tradisi beragama jaman Kali ini tentunya sangat berbeda dengan tradisi beragama pada jaman Dwapara misalnya.
Pendengar sedharma,
Pada jaman Dwapara, cara beragama yang paling ditekankan adalah dengan Upacara Yadnya. Ini artinya Upacara Yadnya itulah yang menjadi tumpuan tertinggi dalam mengamalkan tradisi Weda jaman Dwapara. Karena itu pada jaman Dwapara Upacara Agama dilangsungkan sangat meriah dan megah. Ketika memasuki jaman Kali tradisi Upacara yadnya itu bukanlah berarti ditinggalkan begitu saja. Esensi Upacara Yadnya tetap sebagai tumpuan kehidupan beragama, namun wujud luarnya harus disesuaikan. Esensi dari Upacara Yadnya itulah yang lebih ditekankan.
Pendengar Sedharma yang Saya Banggakan,
Esensi Upacara Yadnya adalah mendekatkan umat dengan alam lingkunganya, dengan sesama manusia dan pendekatan yang tertinggi adalah kepada kesucian dan keagungan Tuhan. Inilah cara merawat tradisi Weda. Nilai tradisi yang sudah ada diteruskan dengan perubahan paradigma serta diperkaya oleh kebutuhan jaman selanjutnya. Artinya tradisi beryadnya pada jaman Dwapara tetap dilanjutkan esensinya namun diperkaya oleh cara beragama pada jaman Kali.
Pendengar umat Sedharma,
Dengan demikian esensi nilai-nilai Upacara Yadnya pada jaman Dwapara tetap berlanjut. Namun dalam wujudnya telah mengalami inovasi dengan diperkaya oleh cara beragama pada jaman Kali. Dengan cara ini tradisi Weda tidak akan pernah menimbulkan kejenuhan. Karena dalam tradisi tersebut ada nilai-nilai yang berlangsung secara kontinue. Dalam kesinambungan nilai itu ada proses inovasi dalam penampilan dan pengkayaan nilai. Konvergensi dua nilai itulah yang membutuhkan penampilan yang inovatif, sehingga selalu dapat mengikuti perjalanan jaman. Dalam tradisi Hindu di Bali khususnya dan di Indonesia umumnya sudah memiliki sistem yang memberikan peluang untuk memelihara tradisi Weda dengan baik, Cuma peluang tersebut kurang dimanfaatkan.
Pendengar sedharma dimanapun anda berada,
Seperti adanya Hari Raya Agama dan Puja Wali di Pura ada yang setiap tahun, ada yang setiap setengah tahunan. Perayaan tahun yang sebelumnya dan tahun berikutnya haruslah terus ditingkatkan kualitas spiritual. Dengan demikian perayaan tersebut akan selalu mendekati konsep kitab suci. Perayaan sebelumnya hendaknya dijadikan dasar untuk menilai apa kekurangnya. Kalau ada yang masih jauh dengan konsep kitab suci pada perayaan selanjutnya dapat disempurnakan. Berbagai kekurangan itu lambat laun akan semakin mengecil, dengan demikian tradisi Weda terus dapat dipelihara kemurnianya.
Pendengar sedharma yang saya cintai,
Inilah yang dapat saya sampaikan, semoga renungan ini dapat memberi manfaat bagi kita dalam menjaga sakralisasi serta aktualisasi ajaran weda yang menjadi pedoman kita dalam beragama. Dan akhir kata;
“Om Loka Samastha sukhino bhawantu”
Ya Tuhan semoga seluruh isi alam berbahagia”
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM .
....................................................................
NILAI MORAL DARI GALUNGAN
..
Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namosidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (Ya Tuhan semoga segala kebajikan datang dari semua arah), Pendengar sedharma yang berbahagia, Angayu bagiya kita haturkan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), karena kita masih berkesempatan berjumpa pada acara Renungan Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI Nabire. Adapun Tema kita malam ini adalah “NILAI MORAL DARI GALUNGAN”.
Pendengar Sedharma yang Berbahagia,
Perbedaan Galungan Nara Mangsa dan bukan Nara Mangsa adalah terletak pada jenis upacaranya. Kalau Galungan Nara Mangsa tidak melakukan Upacara Galungan sebagaimana biasanya. Upacarnya tidak menggunakan tumpeng Galungan, tidak memenjor, tidak nyemblih hewan untuk upacara Galungan, dst. Kalau Nara Mangsa menggunakan upacara Bhuta yadnya dengan segahan cacahan keladi dst. Cuma itu pentunjuknya. Jadinya lebih banyak menyangkut wujud fisik upacara bukan perbedaan nilai sucinya. Sedangkan nilai moralnya yang dinayatakan dalam Lontar Sunarigama sebagai petunjuk. Saudara Sedharma yang saya banggakan,
Sesungguhnya hari raya Galungan itu adalah hari untuk mengingatkan umat manusia untuk melakukan nilai-nilai moral yang akan membawa mereka hidup lebih sejahtra dan bahagia. Mengapa diingatkan, karena manusia itu umumnya sering lupa. Yang diingatkan pada hari raya Galungan itu adalah untuk terus menerus berjuang memenangkan nilai moral (Dharma) dalam hidupnya ini. Karena kalau moral Dharma tidak tegak, maka hidup manusiapun akan selalu dirundung derita karena Adharma yang merajalela. Untuk mengatasi penderitaan itu maka dalam perayaan Galungan divisualkan tahapan yang wajib dilakukan dalam hidup ini agar kita dapat hidup diatas relnya Dharma. Karena manusia sering lupa dan selalu adanya perobahan generasi, maka visualisasi penguatan hidup agar senantiasa berjalan diatas relnya Dharma terus menerus diingatkan melalui perayaan Galungan sampai Kuningan.
Pendengar Sedharma Dimanapun Anda Berada,
Hari suci Galungan itu kita rayakan setiap Budha Kliwon, wuku Dungulan. Mungkin belum banyak perayaan itu dirayakan dengan terlebih dahulu mencocokan perayaan itu dengan teksnya dalam pustaka petunjuknya. Dalam Pustaka Sunarigama ada dinyatakan tentang pengertian Galungan dalam bahasa Jawa Kuno. Teks tersebut sbb: “Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan, patitis ikang jnyana sandhi galang apadang mariakena byaparaning idep”. Inilah teks pustaka Sunarigama yang memberikan kita penjelasan apa itu sebenarnya Galungan. Petunjuk moral dari Galungan inilah yang hampir selalu dilupakan dalam merayakan Galungan. Teks Sunarigama itu semestinya kita selalu pegang sebagai landasan setiap merayakan hari besar keagamaan Hindu yang disebut Galungan itu. Yang ditekankan dalam rumusan Sunarigama itu adalah Jnyana.
Pendengar Sedharma yang saya Cintai,
Dalam ajaran Samkhya Yoga Darsana dinyatakan bahwa manusia itu dibangun oleh dua unsure, yaitu Purusa dan Predana. Dari Purusa itu menimbulkan Citta atau alam pikiran. Citta itu memiliki empat kekuatan yaitu Dharma, Jnyana, Vairagia dan Aiswarya. Dan dalam rumusan Galungan itu dinyatakan: patitis ikang Jnyana sandhi. Ini artinya pada hari Raya Galungan Jnyana (ilmu pengetahuan suci) inilah yang diarahkan agar bersatu atau bersinergi dalam Sunarigama disebut dengan istilah Jnyana sandhi. Kondisi diri yang disebut Jnyana Sandhi itulah yang akan mendatangkan kekuatan rohani. Jnyana Sandhi itu adalah terserap dan teraplikasinya ilmu pengetahuan suci yang disebut Jnayana itu dalam diri setiap umat secara integratif. Kekuatan rohani sebagai akibat dari adanya Jnyana sandhi itu dinyatakan dalam Sunarigama diatas sebagai galang apadang. Rohani yang galang apadang itulah diri pribadi yang cerah, karena dicerahkan oleh Jnyana sandhi itu. Diri yang galang apadang inilah sesungguhnya kekuatan Dharma yang harus dibangun dalam diri oleh umat dalam merayakan Galungan. Inilah sesungguhnya amanat Galungan. Dengan rohani yang galang apadang inilah kita melenyapkan (mariakena) kekuatan yang Adharma. Kekuatan Adharma dalam diri manusia itu dinyatakan dalam Sunarigama sebagai biyaparaning idep. Biyaparaning idep itu adalah alam pikiran yang kacau. Alam pikiran yang kacau itulah sebagai sumber perbuatan Adharma. Jadinya alam pikiran yang kacau inilah yang harus dilenyapkan dalam merayakan Galungan. Dharma akan tegak apa bila alam pikiran yang kacau itu terus menerus dihilangkan. Inilah yang terus menerus diingatkan setiap hari raya Galungan. Jadinya bukan saat Galungan saja kita menegakan Dharma tetapi harus terus menerus.
Saudara Sedharma dimanapun berada,
Merayakan Galungan dengan berbagai variasi tentunya boleh dan syah saja. Sepanjang variasi tersebut bertujuan untuk menajamkan dan menguatkan pemaknaan hari raya Galungan tersebut sesuai dengan Tattwanya. Kalau variasi itu justru sebaliknya lebih menonjolkan hura-hura mengumbar nafsu duniawi, tentunya Adharma yang lebih unggul. Bahkan keunggulan Adharma saat Galungan lebih menonjol kalau dibandingkan dengan hari-hari biasa. Buktinya kecelakaan lalu lintas karena mabuk dan kebut-kebutan umumnya selalu meningkat kalau dibandingkan dengan hari-hari biasa.
Pendengar sedharma
Sebenarnya hari raya galungan itu hanya sebuah momen untuk menunjukkan bahwa Dharma di dalam diri kita lebih unggul dari pada Adharma. Jagi untuk menegakkan dharma tidak hanya pada saat Galungan, semainkan setiap hari kita harus mengamalkan Dharma. Dalam arti kita tiap hari kita harus berfikir, berbicara dan berbuat yang baik, serta tidak menyakiti mahlunk lainnya, baik manusia, tumbuhan ataupun binatang.
Pendengar sedharma yang saya cintai,
Demikian yang dapat saya sampaikan, tentang nilai moral pada Hari Raya Galungan. Dan semoga apa yang saya sampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua, dan saya atas nama PHDI Kab. Nabire mengucapkan selamat menyambut hari raya Galungan. Akhir kata: Om Loka Samasta Sukhino Bhawantu
Ya Tuhan Semoga seluruh isi alam berbahagia
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM
TINDAKAN SEDERHANA PENUH MAKNA
TINDAKAN SEDERHANA PENUH MAKNA Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namosidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran ya...
-
.. Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namosidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala pen...
-
SEJARAH PURA SP.1 (PURA PUJA DEWATA) NABIRE Jauh sebelum adanya warga transmigrasi di UPT Kalibumi dan Wanggar, di kabupaten Nabire telah ...
-
SEJARAH PURA SP. 2 (PURA PUJA TRI SAKTI) NABIRE Pada sekitar tahun 1982 merupakan tahun kedatangan warga transmigrasi UPT (Unit Pemukim...