Senin, 31 Juli 2017

PERMUSUHAN


Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namosidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru), Pendengar sedharma yang berbahagia, Puja dan Puji syukur patut kita haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan yang Maha Esa), karena Atas segala Asung kerta wara nugrahaNya yang telah Beliau limpahkan kepada kita semua, sehingga dalam kesempatan ini kita dapat berjumpa kembali pada acara Renungan Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI Nabire. Adapun topik Renungan kita malam ini adalah tentang PERMUSUHAN”

Pendengar Umat Sedharma yang saya banggakan,
Meminjam istilah Bali, yaitu salah satu nilai kearipan lokal yang diwariskan oleh leluhur umat Hindu di Bali berbunyi sbb:  Memusuh ngajak nyama sing dadi metelah-telahan. Kalimat berbahasa Bali ini kalau disalin kedalam bahasa Indonesia kira-kira artinya sbb: kalau bermusuhan dengan sesama saudara janganlah habis-habisan. Kearipan lokal dalam bentuk nasehat tersebut kalau dicamkan dengan baik akan dapat meredam tajamnya permusuhan dengan sesama saudara, bentuk kearipan lokal ini mungkin muncul dalam masyarkat kita (Indonesia) yang notabene masyarakat yang majemuk.

Pendengar Umat Sedharma,
Hal ini muncul sebagai akibat dari adanya hukum alam, atau yang dikenal dalam agama Hindu adalah Rwa Bhineda sebagai ciptaan Tuhan. Betapapun eratnya persatuan dalam persaudaraan maka pernah saja ada perbedaan. Bahkan sering mengarah pada permusuhan. Yaitu permusuhan dalam persaudaraan yang kadang-kadang sulit dihindari. Karena itu agar jangan orang terlalu frustrasi menghadapi keadaan yang tidak mengenakan itu muncullah nasehat dari berbagai pihak seperti yang dikutip di atas.

Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia,
Meskipun bermusuhan dengan saudara bukan merupakan harapan hidup setiap orang, tetapi hal itu merupakan kenyataan sosial yang mau tidak mau harus dihadapi, Mungkin leluhur jaman dahulu ada yang sering menjumpai kenyataan itu. Dari menghadapi kenyataan itulah nilai-nilai Agama direfleksikan kedalam bentuk paradigma yang dituangkan dalam bentuk nasehat seperti yang dikutip diatas. Dengan paradigma itu diharapkan dapat  meredakan kita untuk bermusuhan dengan sesama saudara, dalam artian yang luas. Seperti: Saudara kandung, saudara seagama, satu suku, satu daerah, satu bangsa dst.

Pendengar Umat Sedharma dimanapun anda berada,
Di Jaman Kali yuga ini banyak sekali kita jumpai persaudaraan tanpa sahabat, seperti bersaudara satu ayah satu ibu tetapi tidak bersahabat alias bermusuhan, bersaudara dalam satu Agama tetapi tidak bersahabat, bersaudara satu partai politik tetapi bermusuhan, bersaudara satu etnis namun selalu bertikai, bersaudara satu instansi tetapi bermusuhan bahkan saling menjelekan satu sama lain, demikian seterus nya. Seperti yang kita ketahui saat ini di sela-sela kita merayakan kemerdekaan Indonesia, tetapi ada saja gerakan yang ingin merdeka di satu daerah, dan bahkan mengorbankan nyawa, hal inilah yang kita sayangkan. Pertanyaannya apakah tidak ada jalan lain selain kangkat senjata??

Pendengar Umat Sedharma yang saya cintai,
Seperti konsep Rwa Binedha, bahwasanya ada Bersahabat maka ada bermusuhan atau ada pertemuan maka ada perpisahahan dan lain sebagainya, itu memang salah satu ciri dari kehidupan bersama dalam masyarkat. Hukum alam (Rwa Bhineda) menyebabkan terjadinya hal yang demikian itu. Swami Satya Narayana menyatkan jaman Kerta umat manusia tidak memiliki musuh. Jaman Treta Yuga manusia mulai memiliki musuh, cuma musuhnya masih jauh diluar Negaranya. Seperti Sri Rama Raja Ayodia musuhnya jauh di Alengka Pura. Pada jaman Dwapara musuh sudah masuk dalam keluarga seperti Pandawa bermusuhan dengan Korawa, padahal mereka saudara sepupu dalam satu Kerajaan lagi. Dan pada jaman Kali yuga musuh sudah masuk kesetiap lubuk hati nurani manusia. Hal inilah yang sering menyebabkan orang saling pandang sebagai musuh dan bukan sebagai sahabat.

Saudara Sedharma para bhakta terkasih,
Untuk meredam permusuhan apa lagi dalam saudara ada baiknya kita kuatkan lagi berpegang pada nasehat sebagai kearipan local tadi. Jadikanlah kelebihan dan kekurangan sesama saudara itu milik sendiri. Memusuhi saudara sendiri sesungguhnya memusuhi diri sendiri, karena saudara kita itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan diri kita. Apakah itu saudara sekandung, saudara seAgama, saudara satu suku atau satu bangsa Indonesia. Semuanya itu adalah saudara kita. Karena seseorang akan sangat tersiksa bermusuhan dengan sesama saudara, serta akan sulit menghindarkan pertemuan-pertemuan, apakah dalam pertemuan agama, suku atau dalam kegiatan apapun. Dan apabila kita habis-habisan bermusuhan dengan saudara, kita akan benar-benar menderita setiap kali berjumpa. Dan apabila kita redam dengan nasehat yang arip,  Apa lagi punya konsep mencari kemenangan dengan jalan mengalah, hal ini akan lebih mulia, baik dimata manusia atau di mata Ida Sayang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), karena dengan mengalah dalam permusuhan dengan saudara justru kita akan menang. Dengan tidak merasa bermusuhan kita akan merasa terbebas dari rasa tertekan.

Saudara Pendengar Sedharma yang saya cintai,
Memang kita harus berani berkorban dengan merendah. Atau dalam bahawa umum kita mengalah untuk menang di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, dan Masyarakatpun umumnya akan menilai yang berani mengalah itu lebih dihormati dari yang tidak mau mengalah. Itulah suatu kemenangan bagi kita yang mau mengalah dalam permusuhan itu. Dan dihari kemenangan, baik kemenangan Indonesia (dirayakan setiap bulan Agustus) dari penjajah atau kemenangan dharma melawan adharma (dirayakan setiap hari raya Galunga) maka kita harus merayakan kemerdekaan / kemenangan ini dengan bangga, dan tetap menjaga keteguhan serta menjujung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Pendengar sedharma yang berbahagia,
Itulah yang dapat saya sampaikan, kiranya hal ini bermanfaat bagi kita semua. Demi keharmonisan dapat terjalin dan terjaga, maka kita harus dapat saling mengerti dan menghargai serta saling memaafkan. Akhir kata
Om Lokasamasta sukhino bhawantu.
Ya Tuhan Semoga seluruh isi alam berbahagia
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM .
.

METODE PEMBINAAN ADAT DAN BUDAYA

..
Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namasidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala arah), Pendengar sedharma yang berbahagia, puja dan puji syukur kita haturkan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa (TYME), karena kita dapat berjumpa dalam acara Santapan Rohani Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI Nabire. Adapun Tema kita pagi ini adalah METODE PEMBINAAN ADAT DAN KEBUDAYAAN”

Pendengar umat Sedharma yang berbahagia,
Agar Sanatana Dharma atau intisari kitab suci Veda terus dapat menjadi pegangan dan penuntun dalam meniti kehidupan di dunia ini, maka hal itu harus diaplikasikan dengan konsep Anutana Dharma. Artinya aplikasi dari Sanatana Dharma itu harus disesuaikan terus dengan dinamika sosial umat Hindu. Karena hakekat hidup adalah perubahan atau transformasi individu maupun sosial. Perlu kita pahami, Beragama bukan hanya sebatas informasi. Artinya beragama bukan sekedar untuk dapat menghapal isi kitab suci. Dan Informasi yang didapat dari kitab suci itu harus mendatangkan tranformasi diri dan sosial menuju kearah yang semakin baik. Karena tanpa adanya transformasi diri dan sosial dalam kehidupan beragama, maka beragama itu akan menjadi beban hidup yang memberatkan masyarakat atua kita semua, baik disadari maupun tidak.
Pendengar sedharma dimanapun anda berada,
Sebagai perbandingan dapat kita simak pandangan DR Rajiman Wedioningrat atau yang lebih terkenal dengan sebutan Ki Hajar Dewantara. Ia mengatakan untuk menjaga dinamika perubahan budaya (cultural inovatif) agar selalu bergerak menuju perubahan yang positif maka harus diterapkan konsep Trikon. Apa yang dimaksud konsep Trikon oleh DR Rajiman Wedioningrat itu?. Yang dimaksudkan dengan konsep Trikon itu adalah; Kontinuitas, Konsentrisitas, Konvergensi. Dari proses Trikon itulah munculnya inovasi budaya menuju inovasi yang semakin positif yang akan mengantarkan kita semua semakin sejahtra lahir dan batin. Inovasi atau perubahan budaya tanpa menimbulkan kesejahtraan lahir batin maka perubahan itu adalah perubahan yang penuh dosa.
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia,
Yang dimaksud dengan Kontinuitas adalah bahwa dalam perubahan itu yang harus dipertahankan adalah nilai-nilai universal yang mampu diwujudkan dalam proses hidup berbudaya. Atau dengan kata lain nilai-nilai budaya yang masih relevan dengan perkembangan jaman dan kebutuhan masyarakat hendaknya terus dilanjutkan untuk dipertahankan. Konsentrisitas artinya suatu upaya untuk memilah-milah hasil-hasil budaya yang telah berlansung. Dari hasil pemilah-milahan itu terus ada proses untuk memilih-milih, nilai-nilai mana yang harus dipertahankan, demikian juga nilai-nilai mana yang harus dikembangkan untuk disesuaikan dengan perkembangan jaman dan kebutuhan hidup masyarakat, dan aspek-aspek budaya yang sudah usang untuk ditinggalkan. Namun dalam melepaskan nilai-nilai yang sudah tidak sesuai lagi membutuhkan suatu metode tersendiri agar jangan sampai menimbulkan gejolak sosial. Merubah aspek-aspek budaya yang sudah tidak sesuai itu harus ditempuh dengan cara-cara yang persuasif educatif   melalui proses demokratis. Artinya melepaskan hal-hal yang sudah usang itu tidak boleh dengan cara-cara pemaksaan kehendak oleh siapapun.

Pendengar Umat Sedharma yang Saya Cintai,
Proses Trikon yang  ketiga adalah Konvergensi. Maksudnya memadukan secara holistik dan sinergis nilai-nilai yang sudah ada atau dimiliki dengan nilai-nilai baru yang sesuai dan cocok dengan nilai-nilai yang sudah ada. Dari perpaduan nilai-nilai itulah melahirkan inovasi budaya. Dengan teori Trikon inovasi atau perubahan budaya itu tidak menimbulkan stagnasi budaya antara budaya yang lama dengan budaya hasil perubahan dari proses Trikon. Kalau terjadi stagnasi budaya kalau tidak pandai-pandai mengelola masyarakat dapat menimbulkan gejolak sosial.

Pendengar Umat Sedharma yang Berbahagia,
Dalam membina Adat Kebudayaan Hindu teori Trikon ini dapat dijadikan sumber inspirasi, sehingga proses kehidupan Adat Kebudayaan Hindu tidak ketinggalan jaman dalam mengantisipasi perubahan jaman. Karena itu pengkajian-pengkajian Adat Kebudayaan Hindu harus terus dilakukan. Dari pengkajian tersebut kita akan dapat menemukan mana Adat Kebudayaan Hindu yang mengandung nilai universal dan mana yang sudah ketinggalan jaman. Oleh karena itu penitn untuk memfilter budaya yang akan mempengaruhi budaya kita (kultur hindu di Indonesia).

Pendengar Umat Sedharma di Manapun Anda Berada,
Oleh karena itu penting ada proses dalam membina Adat dan Budaya Hindu di Indonesia. Tiga proses itu adalah pertahanan, pengembangan dan pengkayaan.  Ini artinya ada nilai-nilai Adat dan budaya (Acara) Hindu yang masih dapat dipertahankan karena masih kuat dan tepat dapat berfungsi untuk menjadi media menanamkan Tattwa dan Susila Hindu kepada umat Hindu. Ada nilai-nilai yang masih baik namun lebih banyak negatif cara mewujudkannya. Maka nilai ini perlu direkonstruksi atau dikembangkan agar  ia dapat menjadi media yang efektif untuk mengantarkan Tattwa dan Susila Hindu kepada umat. Ibarat mobil tua. Mesinya masih baik namun badannya sudah keropos. Mobil itu dapat di ketok dan dicat ulang. Disamping itu ada nilai-nilai budaya asing yang sangat cocok disandingkan maupun dipadukan dengan Adat Budaya atau Acara Hindu yang sudah ada, dan lain sebagainya.    

Pendengar Umat Sedharma yang Berbahagia,
Penerimaan budaya asing itu sebagai proses memperkaya Acara Hindu yang sudah ada. Hal ini sudah dilakukan oleh leluhur  umat Hindu sejak jaman dahulu. Karena itu, kita mengenal uang kepeng Cina sebagai Sesarin Banten. Bahkan dijadikan bahan membuat Arca Bhatara Sedana sebagai lambang Dewanya uang. Dalam seni ukir kita mengenal adanya Patra Belanda, Patra Cina dan Patra Mesir memperkaya seni ukir Hindu. Kalau kita amati dengan jujur Acara Hindu di Bali atau di seluruh Indonesia banyak sekali diperkaya oleh budaya asing untuk mengkemas Tattwa dan Susila Hindu yang bersumber dari kitab suci Weda. Proses pengkayaan demikian itu tentunya akan berjalan, meskipun ada semenatara umat Hindu yang menunjukan sikap anti pati pada proses pengkayaan itu. Namun umat yang sudah semakin melek mana yang baik dan mana yang tidak baik mereka sudah semakin paham. Seperti semakin berkembangnya kidung-kidung suci yang berbahasa Sansekerta. Kidung-kidung pujaan kepada Tuhan itu banyak juga yang mencelanya. Ada yang menyebut jangan ke India-Indiaan, dan lain sebagainya. Tetapi kenyataanya masyarakat semakin banyak yang menggemarinya. Apa lagi mereka yang mencela itu tidak juga bisa melantunkan Kidung yang tradisional. Sedangkan mereka yang senang dengan Kidung yang berbahasa Sansekerta yang lebih populer dengan istilah Bajan atau Kirtan, juga sangat fasih dengan Kidung tradisional baik Bali, Jawa, Kaharingan dll.
Pendengar Umat Sedharma yang Cintai
Demikianlah cara atau metode kita untuk mempertahankan adat dan budaya serta tradisi agama agar tetap ada walau jaman semakin berubah. Dan semoga ini semua dapat memberi manfaat untuk kita semua.
“Om Lokasamasta sukhino bhawantu.
Ya Tuhan Semoga seluruh isi alam berbahagia”
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM .
..

PEMBINAN ADAT DAN KEBUDAYAAN

Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namasidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala arah), Pendengar sedharma yang berbahagia, puja dan puji syukur kita haturkan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa (TYME), karena kita dapat berjumpa dalam acara Renungan Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI Nabire. Dalam Tema kita malam ini adalah “PEMBINAAN ADAT DAN KEBUDAYAAN”

Pendengar Umat Sedharma yang Saya Cintai,
Tradisi atau upacara Agama Hindu memang sangat khas dan unik. Kekhasan dan keunikan lokal baik di Bali atau di daerah lain yang kebiasaan melaksanakan uapacara agama yang di selimuti oleh budaya setempat. Menurut iluwan dari barat oleh F.DK.Bosch disebut local genius . Meskipun demikian kekhasan dan keunikan sebagai wujud local genius itu bukanlah sesuatu yang beku tanpa dinamika. Untuk membuktikan bahwa umat Hindu yang masih menjujung tinggi tradisi adat budaya, mereka memiliki local genius, maka setiap generasi harus mampu mengembangkan dan memperkaya wujud local genius itu.

Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia,
Karena itu tujuan dari pembinaan dan pengembangan Adat  Kebudyaan Hindu atau Acara adalah untuk terus  melakukan kreasi dalam tradisi Hindu, sehingga upacara agama selalu dapat menjadi media untuk mengaplikasikan Sanatana Dharma. Aplikasi Sanatana Dharma itu agar terus dapat memberikan kekuatan kepada umat Hindu untuk meningkatkan keluhuran moral dan kekuatan serta daya tahan mental umat dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan. Atau di singkat menjadi AGHT itu adalah ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan hidup. Begitu juga umat yang  memiliki moral yang luhur dan daya tahan mental yang kuat, maka dia akan dapat mengembangkan profesinya dengan baik untuk meraih hidup yang sejahtra lahir batin (Jagathita dan Moksa).

Pendengar Umat Sedharma di manapun Anda berada,
Tetapi, Secara obyektif atau pada kenyataanya realita, banyak umat Hindu yang mengeluh karena Adat Istiadat Agama Hindu itu rumit dan terlalu banyak bahan untuk melaksanakan sebuah upacara. Tetapi dengan perkembangan jaman, maka sudah banyak yang perlu dikembangkan untuk disesuaikan, karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Jadinya tujuan lain dari pembinaan dan pengembangan Adat dan Kebudayaan Agama Hindu adalah untuk terus-menerus mengadakan pengembangan tradisi Agama Hindu. Yaitu melalui proses pembinaan yang sistimastis dan demokratis.

Pendengar Umat Sedharma yang Berbahagia,
Dengan demikian Adat dan Kebudayaan Agama Hindu akan selalu dapat menjawab tantangan jaman yang terus menerus berubah-ubah. Maka dengan cara itulah umat Hindu akan selalu betah pada pelaksanaan Agamanya, sehingga tidak ada keluhan-keluhan karena kakunya Adat istiadat Agama Hindu yang diberlakukan.
Sebagai contoh di bali: Sudah banyak korban berjatuhan karena kakunya Adat Agama Hindu (Acara Agama Hindu) yang diberlakukan dalam Desa Pakraman sebagai wadah pengamalan ajaran Agama Hindu. Hal ini terjadi karena masih maraknya kasus Adat yang menggunakan alasan Adat Istiadat Agama Hindu sebagai konflik antar umat seagama itu terjadi. Inilah sebenarnya pemahaman yang salah.

Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia,
Perlu kita pahami, bahwasanya kebanyakan dan pada umumnya umat Hindu masih sangat kurang paham akan Tattwa Agama Hindu yang menjadi landasan dan dasar dari suatu Adat dan Kebudayaan Agama Hindu yang diberlakukan tersebut. Sehingga karena itu, Adat istiadat Agama Hindu sering pengamalanya atau aplikasinya justru bertentangan dengan landasan Tattwa yang menjadi dasar tradisi beragama Hindu tersebut. Oleh karena itu tujuan pembinaan harus juga diarahkan untuk memberikan pengertian Tattwa yang menjadi dasar pelaksanaan suatu Adat Kebudayaan Agama Hindu tersebut.

Pendengar Umat Sedharma Yang Saya Cintai,
Perting untuk kita ketahui, bahwasanya yang sulit dalam mewujudkan tujuan pembinaan dan pengembangan Adat Kebudayaan Agama Hindu adalah menghadapi umat yang tidak mau mengerti dank arena dia kurang paham akan makna filosofis dari upacara atau adat dalam agama. Tetapi jangan salah, Sesungguhnya mereka-mereka itu juga sudah paham dan sangat mengerti pengamalan Adat Istiadat Agama Hindu yang menyimpang dari landasan Tattwanya, namun sengaja tidak mau melakukan pengertian yang benar karena mereka-mereka itu mendaptakn keuntungan sosial dan ekonomi dari tradisi Agama Hindu yangbegitu rumit bagi orang awam dan yang masih banyak menyimpang dari Tattwanya. Namun yakinlah perobahan jaman akan melanda mereka-mereka yang tidak mau mengerti dan beragama Hindu menurut Tattwanya. Karena betapapun, kebenaran pasti akan menang, cepat atau lambat perubahan jaman dan perubahan semua akan berubah.

Pendengar Umat Sedharma dimanapun Anda Berada,
Dari maksud pembinaan adat dan budaya, kita sebagai umat Hindu yang masih menjujung tinggi tradisi adat istiadat, maka kita harus tetap untuk melestarikan itu semua, karena masa lalu ada sehingga kita bisa menjadi ada, begitu juga masa depan akan ada karena kita juga ada, dan pertanyaannya mapukan kita mempertahankan local genius (tradisi lokal) kepada anak cucu kita yang akan meneruskan jaman ini???

Pendengar sedharma yang berbahagia,
Di sinilah letaknya kenapa kita harus tetap mempertahankan itu semua. Dan marilah dari sekarang kita bersama-sama untuk mempersiapkan yang perlu di diapkan dalam menjemput jaman yang akan datang, sehingga adat, tradisi dan budaya kita tidak luntur di telan jaman, tetapi adat budaya serta tradisi agama pun dapat mengikuti perkembangan jaman.     

Pendengar Umat Sedharma Yang Cintai,
Demikian yang dapat saya sampaikan, dan hendaknya kita dapat menerapkan ajaran agama dan mampu mempertahankan adat istiadat serta tradisi. Dan  kiranya itu akam bermanfaat bagi kita semua. serta semoga Sang Hyang Widhi senantiasa melindungi dan menganugrahkan kesehatan bagi kita semua.

Saya atas nama PHDI mengucapkan selamat menyambut hari suci ramadhan (ibadah puasa).
Akhir kata:
Om Lokasamasta sukhino bhawantu.
Ya Tuhan Semoga seluruh isi alam berbahagia”
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM .
.

TINDAKAN SEDERHANA PENUH MAKNA

  TINDAKAN SEDERHANA PENUH MAKNA Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namosidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran ya...