Sabtu, 15 Januari 2022

SEJARAH PURA Yaro. 2 (PURA PUJA NIRWANA) NABIRE

 SEJARAH PURA Yaro. 2 (PURA PUJA NIRWANA) NABIRE

 

 








 

Yaro. 2 atau kampung Jaya Mukti merupakan salah satu Satuan Penduduk di wilayah Nabire, dan letaknya di distrik Yaro. Kampung ini mulai di buka sekitar tahun 1997, dan sebagian besar pula masyarakat berasal dari Jawa.

Terkait berdirinya Pura di Yaro. 2 awalnya seorang tokoh Hindu yang proaktif untuk terus meminta kepada pemerintah Kampung untuk meminta lokasi untuk mendirikan tempat ibadah Agama Hindu, karena dari DEPNAKERTRAN (dulu) hanya menyediakan tempat peribadatan bagi umat muslim dan Kristen.

Sehingga sekitar tahun 1998 umat Hindu mendapat lokasi untuk mendirikan Pura tepat di belakang rumah Bapak Mujiono Sastro Diharjo, dan pada saat itupula tempat yang rencana akan didirikan Pura, di gunakan oleh orang kampung sebagai tempat untuk bunuh diri. Maka bagi umat Hindu di Kampung Yaro. 2 tempat itu sudah tidak layak untuk didirikan tempat ibadah, maka umat meminta lagi tempat lain untuk mendirikan pura.

Maka di ijinkan umat Hindu untuk mendirikan pura, walaupun lokasi tanahnya tidak sebagus lokasi yang di berikan pertama, tetapi lokasi yang saat ini lebih dekat dengan tempat-tempat ibadah agama lain.

Pada awalnya Pura Yaro hanya terdiri Padmasari itupun hanya terbuat dari kayu. Setelah itu umat kerjabakti masuk hutan untuk mengangkat kayu dan kayunya yang sampai saat ini d buat menjadi balai banjar. Berdirinya balai banjar pun tidak terlepas dari tangan orang lain. Yang pada saat itu ada anggota TNI yang sedang TMD. Oleh karena itu dalam waktu 1 hari balai banjar jadi, dari kerangka sampai pemasangan atap.

Kurun waktu dampai sekarang umat di Yaro. 2 terdiri dari 6 KK, karena yang lain telah kembali pulang ke jawa. Hal yang sama dengan pura-pura lain, bahwasanya pasca berdirinya pura di Yaro.2, di tempat ini belum ada Pemangku (orang yang sudah di winten), maka pada saat persembahyangan, umat di pimpin oleh bapak Mujiono. Sehingga pada tahun 2001 bapak Kasnan diwinten, dan secara otomatis selanjutnya yang memimpin umat untuk melaksankan persembahyangan di Pura adalah Mangki Kasnan, dan hal ini masih berjalan sampai saat ini.     

 

SEJARAH PURA SP. 2 (PURA PUJA TRI SAKTI) NABIRE

 SEJARAH PURA SP. 2 (PURA PUJA TRI SAKTI) NABIRE

 


Pada sekitar tahun 1982 merupakan tahun kedatangan warga transmigrasi UPT (Unit Pemukiman Trans) atau yang lebih di kenal dengan Satuan Pemukiman (SP.2) yang sebagaian besar dari Pulau jawa. Dari sekian jumlah warga trans, ada beberapa Kepala Keluarga yang memeluk Agama Hindu yaitu sekitar 9 KK.

Berlatar belakang dari itu pula maka, inisiatif umat yang beragama Hindu untuk mendirikan tempat Ibadah (Pura), maka pada tahun 1985 terbangunlah pura yang terdiri dari padmasari dan pagar yang semua terbuat dari kayu dan di bagun di antara rumah dan rumah yang kebetulan ada umat yang beragama Hindu memiliki lokasi bersebelahan, sehingga di bangunlah Pura di tengah-tengah rumah.

Seperti halnya Pura haruslah memiliki pemangku, dan pada saat itu pemangku pura adalah Mbah Sukro, dan sampai sekitar tahun 2001an mbah Sukro pulng ke jawa, dan sekitar tahun 2001 ada pendidikan dan pelatihan kepemangkuan/Pinandi ta yang di selenggarakan di Jayapura, maka dari umat mengusulkan Bapak Sukimin untuk mnegikuti pelatihan pemangku. 

 




 

Pada tahun yang sama, umat Hindu mendapatkan Lokasi untuk pendirian tempat Ibadah dengan ukuran 50 x 30 m, yang letaknya tidak jauh dari lokasi pura yang awal, maka sepakatlah umat untuk memindahkan pura. Untuk memindah pura (pelinggih/Padmasari) umat Hindu semua, terutama yang berada di SP gotong royong/Ngayah untuk memikil rame-rame untuk memindahkannya.

Setalah Pura di pindahkan dan mangku sukimin sudah di wintem menjadi pemangku maka beliaulah yang memimpin setiap persembahyangan di SP.2 (Kali Semen) dan sampai saat ini tahun 2014 umat yang beragama Hindu di SP.2 sekitar 14 KK.

 

SEJARAH PURA BATALYON (PURA GIRI WIRA BHAKTI) NABIRE

 SEJARAH PURA BATALYON (PURA GIRI WIRA BHAKTI) NABIRE

 


Berdirinya suatu tempat ibadah, pasti memiliki cerita penyebab kenapa harus di bangun. Dan khususnya tempat ibadah agama Hindu (Pura) di batalyon 753 Arga Vitra Tama. Pada awalnya sekitar tahun 2007 yang pada saat itu komandan Batalyon LETKOL HIDAYAT SURONO, merasa ada kekurangan dalam kepemimpinannya. Di mana di komplek batalyon tempat ibadah yang ada hanya Masjid, Gereja Katolik dan Gereja Prostestan. Padahal dari sekian perajuritnya ada yang memeluk agama Hindu.

Dilain sisi, pada saat rerahinan (tilem, purnama dan hari raya agama Hindu) sebagian besar perajurit/anggotaya banyak yang ijin untuk mengikuti persembahyangan di Pura Agung (Pura Puja Dewata). Dan ada cerita tersendiri pula, bahwasanya bapak Hidayat pernah memimpin batalyon di daerah jawa dan Kalimantan, di dua tempat itu juga beliau berjasa dalam pembangunan pura.

Yang ketiga di batalyon 753 AVT Nabire papua, beliaulan yang menggagas sekaligus mempelopori dalam pembangunan “Pura Giri Wira Bhakti”. Yang diresmikan pada tanggal 3 Maret 2009. Pada saat pembangunan sekitar tahun 2007 sebenarnya perajurit yang beragama Hindu hanya 14 Orang dan itupun semua masih bersetatus bujang. Dan sampai saat ini perajurit yang beagama Hindu sekitar 22 orang, yang terdiri dari 13 orang sudah berkeluarga dan 9 masih bujang, dan 22 personil itu terbagi di 3 tempat, antara lain Batalyon, Zipur dan Kompi A.

 





Sebuah Pura patutnya harus ada Pengempon/Pemangku, tetapi setelah pembangunan pura sampai tahun 2001 umat di Distrik Nabire belum ada yang di winten/dwijati sebagai Pinandita?Pemangku, maka Setelah berdirinya pura sampai tahu 2001 yang memimpin setiap persembahyangan adalah Gusti Komang Triguna (Perajurit) atau kadang I Wayan Putru (Guru SMKN. 1 Nbr yang Saat ini Ketua PHDI Kab. Nabire).

Sampai sekitar tahun 2009 bersamaan dengan karya agung di Pura Agung Puja Dewata, pada saat itu pula di angkatlah I Nyoman Dana sebagai pemangku pura di Batalyon dan di winten menjadi pemangku oleh Ratu Pedanda yang pemimpin Upacara Karya Agung di Pura Puja Dewata.  

TINDAKAN SEDERHANA PENUH MAKNA

  TINDAKAN SEDERHANA PENUH MAKNA Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namosidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran ya...