Sabtu, 15 Januari 2022

TUJUH KEGELAPAN DALAM DIRI

TUJUH KEGELAPAN DALAM DIRI

..
OM SWASTYASTU, Om Avighnam Astu Namo Sidham, Om anobadrah kratavo yantu visvatah, Saudara pendengar umat Sedharma, berbahagia sekali  malam ini kita dapat berjumpa kembali dalam acara Renungan Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI Nabire. Pendengar sedharma marilah kita haturkan Puja dan puji syukur kehadapan Ida Sang Hyang  Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), atas segala Asung Kerta Wara Nugraha yang telah Beliau limpahkan kepada kita semua, Sehingga kita masih diberikan kesempatan dan perlindungan untuk berjumpa kembali dalam acara ini renungan agama Hindu. Pendengar dan umat sedharma, Topik Renungan kita malam ini yaitu “TUJUH KEGELAPAN DALAM DIRI (SAPTA TIMIRA)”, bersama saya Wahyu Diantoro.
..
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia,
Sapta timira terdiri dari kata sapta dan timira. Sapta yang artinya tujuh, timira artinya kegelapan atau kemabukan. Jadi sapta timira adalah tujuh macam kegelapan atau kemabukan. Demikian orang yang dikuasai oleh kegelapan atau kemabukan akan berbuat menyimpang dari ajaran agama. Perbuatan yang melanggar hukum akan membuat orang menjadi sengsara, masyarakat menjadi resah dan terancam. Oleh karena itu, kegelapan atau kemabukan itu hendaknya dihindari. Orang yang tidak mabuk atau gelap oleh sapta timira maka ia disebut orang yang utama dan bijaksana. Antara lain rupa yang tampan atau cantik, kekayaan, kepandaian, keturunan atau kebangsawanan, keremajaan, minuman keras, dan keberanian,. Jadi seseorang yang tidak memamerkan atau memanfaatkan kelebihannya itu untuk sesuatu yang negatif itulah yang disebut orang yang rendah hati, sehingga muncul sebuah kalimat/kata mutiara untuk orang yang seperti itu, di katakana Rendah Hati Hanya Milik Orang Bijak kalimat tersebut tidak dapat kita pungkiri sehingga kodratnya seperti itu.      
       
Pendengar Umat Sedharma yang Saya Cintai,
Dari pembagian sapta timira, maka yang pertama adalah surupa. Surupa artinya rupa yang tampan atau yang cantik. Jadi kita sebagai manusia ciptaan Tuhan dengan berbagai kekurangan, hendaknya kita tidak sombong dan angkuh karena diberikan sedikit kelebihan. Karena ketampanan dan kecantikan itu adalah anugrah dari Sang Hyang Widi Wasa (TYME). Anugrah tersebut patut kita syukuri. Namun, kecantikan dan ketampanan itu tidak kekal, karena itu semua ada masanya, saat kita masih bayi kita di pandang seorang bayi yang imut, mulai menginjak remaja dan dewasa kita boleh dikatakan tampan dan cantik, tetapi saat kita tua pastilah kita akan kriput dan mungkin ompong, itulah yang dikatakan ketampanan dan kecantikan tidak kekal (abadi).   
Namun dengan wajah yang tampan dan cantik seseorang akan mendapat simpati dari teman-temannya. Apalagi wajah yang tampan atau cantik itu disertai dengan perilaku dan budi pekerti yang baik. Bila ketampanan atau kecantikan itu disertai dengan tingkah laku yang tidak benar, sombong atau angkuh, maka akan mengakibatkan penderitaan. Dan penderitaan yang diakibatkan bukan hanya pada orang lain, tetapi juga pada dirinya sendiri. Maka dari itu manfaatkanlah ketampanan dan kecantikan itu dengan wajar dan disertai perilaku yang baik, sehingga nantinya tidak mencelakakan orang lain maupun dirinya sendiri.     
..      
Pendengar Umat Sedharma yang Berbahagia
Berikutnya adalah dhana yang artinya harta kekayaan. Pertanyaannya, siapasih yang tidak senang dan bahagia apabila memiliki kekayaan dan mendapatkan kekayaan? Dengan kekayaan akan bisa membawa kita kemana saja yang kita suka dan mendapatkan apapun yang kita inginkan dan lain sebagainya. Maka dari itu setiap orang bekerja keras siang dan malam berlomba-lomba untuk memperoleh kekayaan. Lantas untuk apa kekayaan itu? Maka kita jawab dengan hati yang suci sesuai dengan ajaran dharma. Sama halnya dengan kecantikan, Kekayaan itu sifatnya tidak kekal. Dalam ajarna agama Hindu terutama, kita diajarkan untuk beramal atau berdhana punia. Menolong orang yang tidak mampu dan membantu pembangunan tempat suci (pura) adalah perbuatan yang mulia. Orang yang selalu beramal dan berdhana punia hidupnya akan bahagia, dan amalnya itu untuk bekal mencapai sorga. Tetapi sebaliknya apabila dengan kekayaan, mata kita buta/terlena dengan kekayaan, maka sebaliknya sengsara dan malapetaka akan kita dapatkan.      
.
Pendengar Umat Sedharma dimanapun berada
Sapta timira yang ketiga adalah guna yang artinya adalah kepandaian. Hidup sebagai manusia penuh dengan pantangan dan tantangan, untuk mengatasinya tentulah sangat memerlukan kepandaian. Dengan kepandaian hidup akan merasa lebih dan mudah untuk melaksanakan sesuatu kegiatan. Agama mengajarkan dan menganjurkan kita untuk terus-menerus belajar dalam hidupnya agar menjadi pandai. Karena orang pandai akan mampu melepaskan dirinya dari lembah kesengsaraan. Tetapi sebaliknya apabila kepandaian itu kita gunakan untuk hal-hal yang negatif atau merugikan dan mencelakakan orang lain, maka kepandaian juga akan mengyengsarakan dan meghancurkan kita. Seperti orang pandai untuk merakit bom, tetapi salah di gunakan untuk menghancurkan gedung dan membunuh ratusan bahkan ribuan nyawa yang belum tentu berdosa, itulah sebuah kepandaian yang salah digunakan.
Ada sebuah cerita:
Dikisahkan raksasa Niwatakawaca adalah raja di Manimantaka. Ia sangat sakti, kesaktiannya atau kepandaiannya tidak dapat dikalahkan oleh para dewa. Merasa dirinya sakti dan kuat iapun menjadi angkuh dan sombong. Ia mabuk karena kepandaiannya. Bahkan Ia ingin menghancurkan sorga loka.
Lalu Dewa Indra mengutus Arjuna dan Dewi Supraba untuk menyelidiki kesaktian Niwatakawaca. Dewi Supraba adalah seorang bidadari. Bila mereka berhasil menyelidiki kesaktian Niwatakawaca, maka Arjuna dengan mudah untuk membunuhnya.
Dewi Supraba lalu mendatangi Niwatakawaca di istanannya. Dengan tutur kata yang lemah lembut dan kecantikannya, Dewi Supraba berhasil mengoda Niwatakawaca, dan ia pun jatuh cinta pada kecantikan Dewi Supraba. Karena mabuk cinta ia pun lupa diri, segala rahasiannya diceritakan pada Dewi Supraba. Begitu juga dengan rahasia kesaktiannya yang terletak di pangkal lidahnya ia sebutkan. Setelah rahasiannya terbongkar dengan mudah Arjuna membunuhnya, maka matilah Niwatakawaca karena kesaktiannya. Ia mabuk kepandaian dan akhirnya kepandaiannya itu juga yang membunuhnya.
Dari cerita tersebut jelas bahwasanya, seharusnya dengan kepandaian kita dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang baik. Sehingga mata kita tidak tertutup oleh kepandaian yang kita miliki sendiri.            
.
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia
Berikutnya yang dapat membuat kita gelap atau mabuk adalah keturunan, dalam sapta timira dikenal dengan kata kulina. Dengan keturunan, biasanya kita merasa drajat kita lebih tinggi dan akhirnya menyebapkan kita angkuh, sombong dan membeda-bedakan pergaulan. Maka dengan berbuat seperti itu akan menjadikan kita sengsara, karena kita dijauhi oleh orang-orang di sekitar kita. Oleh karena itu maka janganlah kita membeda-bedakan dalam bergaul serta jangan angkuh dan sombong bagi kita yang setatus sosialnya lebih tinggi. Karena dengan begitu kita akan mendapatkan banyak teman serta disayangi oleh orang-orang di sekitar kita.   
.
Pendengar Umat Sedharma yang cintai
Perilaku lain yang membuat kita gelap adalah minuman keras dan keberanian (kemenangan) minum-minuman keras dapat menyesatkan dan merugikan kita, salah satunya dari segi kesehatan, oleh karena itu sebaiknya kita hindari ninum-minuman keras dan kalau bisa kita jauhkan diri dari barang tersebut. Berawal dari situ juga biasanya seseorang yang merasa dirinya hebat dan kuat sering menyepelekan dan bertindak kasar terhadap orang lain, karena mengangap dirinya kuat dan tidak ada yang dapat mengalahkannya. Seperti sebuah cerita yang saya sampaikan tadi sekuat-kuatnya manusia dan sepintar-pintarnya seseorang yang tidak didasari oleh dharma (kebaikan/kebenaran) maka pasti akan terkalahkan oleh dharma yang senantiasa menjunjung tinggi kebaikan dan kebenaran. Itulah kehebatan dan kelebihan sebuah kekuatan dharma.   
.
Pendengar Umat Sedharma dimanapun berada
Segala kelebihan yang kita miliki merupakan anugrah bagi kita, tetapi kelebihan itu dapat berdampak positif atau negatif, maka marilah kita yang memiliki kelebihan jangan menjadi angkuh dan sombong, tetapi jadilah padi yang memiliki filosofis semakin berisi semakin merunduk. Maka niscaya kedamaian dan ketentraman akan kita dapatkan. 
.
Pendengar Umat Sedharma yang cintai
Demikian yang dapat saya sampaikan, semuga apa yang saya sampaikan  dapat bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Sang hyang Widhi Wasa senantiasa melindungi dan menganugrahkan kesehatan dan kebahagiaan lahir bhatin bagi kita semua.
Lokasamasta sukhino bhawantu.
Semoga seluruh isi alam berbahagia
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM .
..

Jumat, 14 Januari 2022

HIDUP ADALAH TUJUAN

 

Om Swastyastu, Om Avighnam Astu Namo Sidham, Om anobadrah kratavo yantu visvatah, Pendengar Sedharma yang berbahagia dimanapun anda berada, Puja dan puji syukur patut kita haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (TYME), karena atas segala Asung Kerta Wara Nugraha-Nya kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk berjumpa dalam acara Renungan Agama Hindu yang di siarkan melalui RRI Nabire. Adapun tema kita malam ini adalah tentang “HIDUP ADALAH TUJUAN”.

Pendengar Umat Sedharma yang saya cintai,

Kita sadari bersama bahwa hidup kita terdiri dua aspek, yaitu aspek jasmani dan aspek rohani. Setiap hari dan setiap saat kita mencari kebutuhan dari hidup kita dalam dua aspek ini. Secara jasmani kita memerlukan makanan, minuman, pakaian, perumahan, memelihara kesehatan dan lainnya, begitu pula dengan aspek rohani, kita perlu hiburan, ketenangan batin, dan menghubungkan diri dengan Tuhan.

Pendengar Sedharma yang berbahagia

Badan jasmani yang kita peliharaan dengan makanan, minuman ini adalah tidak kekal, dari waktu ke waktu akan mengalami penurunan, akhirnya mengalami kematian dan kehancuran yang kemudian akan kembali ke unsur – unsur penyusunnya. Sedangkan badan rohani kita/ jiwa kita adalah kekal, jiwa akan membawa beban karma yang dilakukan oleh badan jasmani dan lahir kembali kedunia sesuai dengan karmanya sampai beban itu habis dan mencapai tujuan akhir/moksa, yaitu bersatu kembali dengan sumber asalnya yaitu Parama atman (Tuhan).

Pendengar Sedharma yang saya banggakan,

Setiap manusia memiliki hak yang sama untuk dapat mencapai kesadaran Tuhan, dan tidak satu kitab suci Hindupun yang menyatakan bahwa seseorang harus meninggalkan benda–benda duniawi miliknya serta kewajibannya untuk mencapai kesadaran Tuhan. Sebaliknya Bhgawadgita menyarankan seseorang untuk melakukan kewajibannya.

Pendengar Sedharma,

Setelah mendapatkan pelajaran Bhagawadgita, Arjuna tidak menjadi pertapa, namun selabiknya, ia malah berperang dengan perkasa. Hampir pada akhir dari ajaran Bhagawadgita, Sri Krsna menyatakan kepada Arjuna ”Mam anusmara yudhaca”  artinya dengan senantiasa merenungkan Ku maka berperanglah, atau dalam arti harfiahnya dapat diartikan “dengan senantiasa menerenungkan Tuhan lakukanlah kewajibanmu”.

Pendengar Sedharma yang berbahagia,

Jadi, tidak ada kitab suci Hindu yang menyatakan bahwa, seseorang harus melarikan diri ke hutan untuk mencapai kesadaran Tuhan. Kesadaran Tuhan dapat dicapai dimana saja sesuai dengan profesi apa saja, bukan hanya Para Rsi, pendeta, Sadhu atau pertapa saja yang bisa mencapai kesadaran Tuhan, tapi setiap orang yang ada keinginan dan kemauan untuk hal itu, dan melakukan perubahan dalam hidupnya kearah yang ditunjukkan melalui empat jalan yang ada, yaitu bhakti yoga, Karma yoga, Jnana Yoga dan Raja Yoga, maka dia akan dapat mencapai kesadaran Tuhan.

Pendengar Sedharma dimanapun anda berada,

Untuk menuju kearah kesadaran Tuhan, maka kita harus mulai dengan perubahan mental secara perlahan, seperti seekor ulat kecil yang memakan makanan yang besarnya tiga atau empat kali tubuhnya, kemudian pelan–pelan mengalami proses menjadi kepompong dan akhirnya menjadi kupu–kupu yang indah, seperti itulah kita harus melakukan perubahan dalam diri kita. Jadi perubahan hendaknya dibuat tanpa adanya paksaan atau frustasi. Para orang suci Hindu menyatakan “Kau dapat memiliki apa saja, namun jangan dimiliki oleh hal atau benda itu” maksudnya bahwa kita boleh memiliki benda apa saja, rumah, mobil, perhiasan dan benda – benda material lainnya, tetapi jangan sampai kita terikat/ terbelenggu oleh benda – benda tersebut.

Pendengar sedharma yang terkasih,

Raja Janaka adalah sebuah contoh yang sempurna untuk hal ini. Pada satu sisi beliau adalah seorang Raja dari sudut pandang duniawi dan disisi lain beliau adalah seorang Spiritualis besar yang dikenal di India. Pahamilah bahwa Yogi yang berkelahi untuk sebuah selimut di ketinggian Himalaya pada musim dingin tidak lebih baik dari pada orang biasa. Keduanya dikuasai oleh amarah dan keserakahan. Jadi perubahan dalam kesadaran lebih penting dari pada perubahan penampakan luar atau gaya hidup.

Pendengar Sedharma yang berbahagia,

Menerima dan mengerti kesadaran Tuhan juga memiliki kesulitan, Swami Wiwekananda mengalami hal ini, ketika pertama kali Sri Ramakrisna Paramahamsa, gurunya, membuatnya menyadari Tuhan karena kesadaran beliau belum sampai pada tingkat yang tinggi pada saat itu. Swami Wiwekananda yang sebelumnya bernama Narendra mengajukan pertanyaan “sudahkah engkau melihat Tuhan” hanya Sri Ramakrisna Paramahamsa yang menjawab dengan berkata ”Nak aku melihatNya seperti aku melihatmu” lalu menyentuh kepala Wiwekananda, begitu disentuh tiba – tiba Wiwekananda menangis sekeras. Dikatakan bahwa kekuatan yang dia terima begitu besar hingga tidak mungkin ditahan olehnya dan dia berteriak, “tinggalkan aku, Tuan aku masih punya ibu dan ayah dirumah”.

Pendengar sedharma,

Sesungguhnya tidak ada jalan untuk keluar bagi kita. Tuhan begitu dekat, namun Beliau tidak dapat datang kepada kita, karena kita membiarkannya menjauh. Untuk mencapai kesadaran Tuhan kita tidak harus hafal semua isi kitab suci. Yang kita perlukan adalah ketulusan kita dalam mencari kebenaran tertinggi. Kitab suci hanyalah sarana bantuan untuk mencari Tuhan, bukanlah keharusan mencapai Tuhan. Jika seseorang mahir atau tidak, jika ia tulus untuk mengetahui kebenaran, maka akhirnya dia akan mencapai kebenaran. Tuhan akan menamakan diri pada mereka yang menyerahkan kehendak pribadi kepada kehendak Tuhan. Tuhan meminta pengabdian yang tidak dipertanyakan, yang sepenuh hati dari penyembahNya dan tidak ada disebutkan seseorang harus mempelajari kitab suci.

Pendengar Sedharma yang saya cintai,

Marilah kitab tumbuhkan merupakan mental dan rasa bhakti kita kehadapan Sanghyang Widhi Wasa, karena inilah cara terbaik untuk kita dekat dengan Beliau dan mendapatkan kesadaran akan Tuhan, dengan cara ini semoga kita dapat mencapai kedamaian dan harmoni dalam hidup.

Saudara Sedharma yang terkasih,

Demikian yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata; “Om Loka Samasta Sukhino Bhawantu”

 “Ya Semoga seluruh isi alam berbahagia”

OM SANTIH SANTIH  SANTIH  OM

KRANGKA DASAR AGAMA HINDU

KRANGKA DASAR AGAMA HINDU

..
Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namasidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran yang baik datang dari segala arah), Pendengar sedharma yang berbahagia, puja dan puji syukur kita haturkan kehadapan Sang Hyang Widhi Wasa (TYME), karena kita dapat berjumpa dalam acara Renungan Agama Hindu yang disiarkan melalui RRI Nabire. Dalam Tema kita yaitu KRANGKA DASAR AGAMA HINDU .
..
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia,
Agama Hindu ibarat sebuah rumah. Maka sebuah rumah itu harus ada pondasi, tiang dan atap. Oleh karena itu tiang atau krangka haruslah kuat untuk menghasilkan rumah yang indah, kokoh dan kuat. Tidak beda dengan krangka dasar dari agama Hindu yang memiliki tiga krangka yaitu Tattwa (Filsafat), Susila (Atika) dan Upakara/Upacara (Ritual). Itulah krangka dasar dari pada agama Hindu, tidak sedikit diantara kita mengatakan ritual atau tradisi agama Hindu itu rumit atau dalam bahasa jawanya njelimet, padahal kita ketahui bersama dari tiga krangka dasar agama Hindu itu yang ditonjolkan atau yang harus di lengkapi bukan hanya upakara, atau susila bukan juga tattwanya, melainkan semuanya harus seimbang dan saling menopang, baik dari segi tatwanya, susilannya atau upakaranya.     
Pendengar Umat Sedharma yang Saya Cintai,
Dari tiga kerangka dasar agama Hindu itu semua dikembalikan lagi kepada pemeluknya, untuk memahami dan menerapkan apa yang semestinya dapat kita lakukan dan apa yang mampu kita selengarakan, jadi jelas bahwasanya kita sebagai umat Hindu tidak dipaksa atau ditekan harus melakukan dan menerapkan apa yang di anjurkan oleh agama, melainkan itu semua sesuai kemampuan kita masing-masing sejauh mana kita dapat mengamalkan ajaran agama Hindu. Dari tiga krnagka dasar agama hindu itu semua pada intinya adalah untuk menuju atau untuk mencapai kedamaian rohani dan kesejahteraan hidup jasmani, atau dalam pustaka suci disebut dengan MOKSATHAM JAGATHITYA CA ITI DHARMA yang artinya dharma atau agama itu ialah untuk mencapai moksa (moksataham) dan kesejahtraan hidup makhluk (jagathita). Moksa disebut juga dengan mukti artinya mencapai kebebasan jiwatman atau kebahagiaan rohani yang langgeng.
Pendengar Umat Sedharma yang Berbahagia
Dari tiga krangka dasar agama hindu itu tidak dapat dipisahkan satu sama lain, melainkan ketigana menrupakan satu kesatuan yang terjalin menjadi satu. Sehingga dari ketiga krangka dasar agama itu tidak dapat berdiri sendiri, melainkan itu semua satu kesatuan yang harus dipedomani oleh umat hindu semua. Jika filsafat agama saja yang diketahui tanpa melaksanakan ajaran-ajaran susila dan upakara, maka tidaklah sempurnya. Demikian juga jika hanya melakukan upacara saja tanpa dasar-dasar filsafat dan dan etika, percuma pulalah upacara-upacara itu, walau bagaimana besarnya upacara tersebut. Jadi ketiga hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan, seperti halnya kepala badan dan kaki dalam struktur tubuh manusia, jadi kesemuannya saling menunjang untuk melengkapi itu semua. Sama halnya dengan sebuah telur. Ibarat telur itu agama hindu, jadi dari tiga krangaitu semua saling melengkapi, seperti sari telur atau kuning telur itu adalah tattwanya, putih telur itu adalah susilannya dan uapacara itu adalah kulit telurnya, jadi seandanya satu unsur tidak ada dalam telur maka telur itu tidak akan jadi melainkan akan busuk, pecah dan lain sebagainya. Tapi seandanya ketiga unrus itu ada maka telur itu akan dapat menetas dengan sempurnya.       
Pendengar Umat Sedharma dimanapun berada
Tatwa (filsafat) atau kepercayaan. Dalam agama Hindu kita semua mengenal dengan adanya lima kepercayaan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Panca Sradha yaitu percaya dengan adanya Brahman, atma, karma palha, samsara dan moksa. Itu semua merupakan sari atau dasar kita (umat Hindu semuannya) untuk memahami akan hindu seutuhnya. Dalam kepercayaan kita terhadap Brahman (TYME) telah jelas dijabarkan dalam weda dan dikatakan :
EKAM EVA ADWITYAM BRAHMAN
EKO NARAYANAD NA DWITYOSTI KASIT
EKAM SAT WIPRAH BAHUDA WADANTI
Yang artinya sama, adalah  Tuhan itu satu dan tidak ada duannya, hanya orang bijak yang menyebutnya dengan banyak nama. Demikian jelas apa yang terkandung dari unsure tatwa atau kepercayaan, itulah yang menjadi cerminan kita untuk memandang semua hal. Baik dari keyakinan dan kepercayaan, karena dalam kapasitas manusia untuk yakin dan percaya tidak dapat di ukur satuannya, ibarat beras dapat diukur dengan cara satuan Kg atau L, tetapi yang menjadi ukuran seseorang untuk percaya dan keyakinan adalah sejauh mana seseornag itu mengamalkan ajaran dharma atau agama dengan baik, serta dapat menghargai orang lain seperti dia menghargai dirinya sendiri.
Pendengar Umat Sedharma yang berbahagia
Susila (etika) itu merupakan kewajiban kita untuk diamalkan dalam lingkungan masyarakat. Manusia dikatakan makluk sosial dan tidak dapat hidup sendiri sehingga manusia satu akan membutuhkan manusia lain untuk menunjang kelangsungan hidupnya, oleh karena itu, susila (etika) haruslah menjadi pedoman kit adalam bertingkah laku. Dalam agama hindu dikenal sebuah peribahasa yang mengatakan “saya adalah kamu dan kamu adalah saya atau dalam peribahasanya tat wam asi peribahasa itu mengajarkan kita untuk bisa hidup bersosial serta memandang ornag lain selayaknya memandang diri kita sendiri. Serta peribahasa itu mengajarkan kita untuk sebuah kesosialanyang tanpa batas, karena memandang manusia itu sama, apabila kita menilong orang lain, maka kita menolong diri kita juga, sebaliknya apabila kita menyakiti ornag lain maka kita juga menyakiti diri kita sendiri. Itulah arti dari sebuah etika yang menjadi dasar kita untuk mengarungi bahtera hidup ini. 
Pendengar Umat Sedharma Yang Saya Cintai
Upacara (uapcara) hal ini juga merupakan krangka dalam agama hindu. Atau dalam bahasa sehari-hari adalah ritual yang kerap kita laksanakan setiap hari baik di pura atau di rumah. Dari sudut pandang filsafat, upacara adalah atau  merupakan cara-cara melakukan hubungan antara atma dengan parama-atma, antara manusia dnegan Hyang Widhi serta semua manifestasinya, dengan jalan yadnya untuk mencapai kesucian jiwa. Untuk melakukan upacara-upacara tersebut harus memerlukan upakara, yang digunakan sebagai alat atau penolong untuk memudahkan manusia menghubungkan dirinya dengan Hyang Widhi dalam bentuk yang nyata. Tetapi dalam pelaksanaan upacara atau upakara itu lebih  ditekankan kepada peyelenggara dalam memaknai dan memahami unsur upacara tersebut, sehingga dalam pelaksanaan upacara tidak seolah dipaksa harus sesuai di bali atau di jawa, seperti ibaratnya sibul dari alam beserta isinya di bali di smibulkan dnegan bentuk daksina, tetapi di jawa di simbulkan dengan (cokbakal_jawa red) dari situlah bentuk upakara di sesuaikan dnegan lokal genius setempat.
Pendengar umat sedharma yang berbahagia
Itulah dasar dari pada agama hindu, yang memiliki kerangka beserta hiasan (symbol) serta pengunaannya dalam kehidupan sehari hari.
Demikian yang dapat saya sampaikan, kiranya bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Sang Hyang Widhi senantiasa melindungi dan menganugrahkan kesehatan bagi umatnya.
Lokasamasta sukhino bhawantu.
Semoga seluruh isi alam berbahagia
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM .
..

TINDAKAN SEDERHANA PENUH MAKNA

  TINDAKAN SEDERHANA PENUH MAKNA Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namosidham, Om Anobadrah Kratavo Yantu Wisvatah (ya Tuhan semoga pikiran ya...